Bapak Kyai: Tafsir Manqul KH Nurhasan Bisa Dipertanggungjawabkan

Banyak yang mengaku-ngaku ahli tauhid. Merasa paling mengerti tauhid. Koleksi kitabnya pun tidak jauh dari tema tauhid. Tetapi… jika menemui kegalauan, siapa yang mereka tanya?

Mbah Google dan Mbak YouTube!

Laahawlaa walaa quwwata illabillah. Itu yang disebut ahli tauhid? Tauhid ndas mu!

Loorr. Namanya orang faqih yang mengerti tauhid itu bukan cuma pandai bicara, pandai menulis di sosmed, seakan-akan dirinya paling ustadz padahal: cabul, melarikan istri orang lain, banyak utang, homo, nilep duit sabilillah, ketauan mau makar tapi sok suci, dan lain-lain.

Namanya orang faqih yang mengerti esensi tauhid itu tahu dan mengerti kepada siapa ia menambatkan hatinya ketika merasakan kegalauan. Bukannya sedikit-sedikit liat channel YouTube-nya ulama su’. Ulama yang ‘memperkosa’ dalil al Quran dan al Hadits demi hawa nafsu – demi pembenaran.

Itu namanya goblok murokkab, akhi!

Maka jauhilah gerombolan jemaat seperti yang kami sebutkan diatas. Foto-foto selfie telunjuk auto ngacung, padahal aslinya banyak maksiat dan nggak pernah taubat kepada Alloh yang disaksikan umaro-nya.

Perhatikan wahai pecinta tauhid sesungguhnya. Seperti ini contoh yang dinamakan ahli tauhid, yakni menyerahkan segala urusan dengan sabar, sabar, sabar, sholat, sholat, sholat, doa, doa, doa, dan yakin bahwa Alloh SWT akan memberikan pencerahan. 

Kisah Bapak Kyai K***** (nama disamarkan) sewaktu pertama kali belajar dan menimba ilmu dari KH Hurhasan Ubaidah. Beliau minta kepada Alloh agar diberi pencerahan atas kegalauan hatinya.

“Saya tidak pernah sambat, tidak bertanya kepada manusia. Saya minta kepada Alloh supaya ditunjukkan, rujukannya dimana…”.

Cekidot penuturan beliau, gan: