‘Fitnah’ Itupun Lambat-laun Diikuti Manusia!

Menerawang perjalanan perjuangan perintisan, perkembangan, dan peramutan Jama’ah adalah tidak akan perlah lepas dari sosok Muhammad Midhal (Madekal) atau kerap dikenal dengan nama KH. Nurhasan Al-Ubaidah. Sepulang beliau ke tanah air dari rihlah ilmiyah di Darul Hadits, Makkah Al-Mukaramah, Beliau menakankan wajibnya berilmu, beramal, dan bermuamalah dg mengambil rujukan langsung dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, sesuai pemahaman dan penjelasan Generasi Salafusshalih (Sahabat, tabi’in, dan tabiuttabi’in), tanpa menggunakan pendapat-pendapat generasi setelahnya yg penuh dg Ikhtilaf, dan juga menghindarkan diri dari keyakinan dan praktik ibadah berupa Syirik, Bid’ah, khurafat, tahayul, dan taqlid.

Ketika Beliau mengajarkan kepada kami di tahun 1941 tentang wajibnya Muslimin untuk Berjama’ah, ytu praktik amaliyah nya adalah dg mengangkat seorang Imam dan membaiatnya, serta mentaatinya sepoll kemampuan dlm hal yg ma’ruf dan bukan dalam kemaksiatan, saat beliau mengajarkan wajibnya Laki-laki muslimin untuk ‘nyingkrang’, wajibnya wanita muslimat untuk berhijab, melarang merokok, mengadakan I’tikaf di penghujung 10 hari Bulan Ramadhan, dll maka cacian, hujatan, tawuran, hinaan, sampai dg pengeroyokan dan pembunuhan yg dilakukan oleh pihak-pihak yg tidak senang dg apa-apa yg dibawa, diajarkan, dan dipraktikan Beliau dan kami, santri-santrinya.

Berkali-kali di antara kami saat itu bergilir disatroni dan digiring ke kodim, koramil, kejaksaan, dll dg cecaran tuduhan-tuduhan yg menyudutkan dan tidak berdasar, di antara tuduhan yg saat itu sering ditunjuk tepat di depan hidung kami adalah Praktik Berjama’ah, berimam, berbaiat, dan bertaat yg dikaji dan dipraktikan kami adalah guna mendirikan negara dan merubah ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Bahkan kami selalu dinasihatkan oleh Abah Ubaidah untuk tunduk dan patuh kepada pemerintahan yg shah berdasar Pancasila dan UUD 1945, agar menjadi warna negara yg baik, serta berbudi yg luhur.

Atau saat kami mempraktikan ibadah i’tikaf di surau dan masjid, berkali-kali kami digeruduk masa, dilempari batu, bahkan dibakar masa, kembali kami digiring oleh pihak keamanan, ternyata pihak yg menggeruduk kami terprovokasi oleh satu fitnah yg menyatakan bahwa kami malam-malam di surau dan masjid itu adalah mengadakan tukaran istri di antara kami.
Astaghfirullah!

Beliau, Abah Ubaidah, menekankan kepada kami untuk selalu mutawarik di dalam masalah hubungan laki-laki dan perempuan yg bukan mahramnya, praktiknya di antara mereka di larang nyepi,surat-suratan, lung-lungan, boncengan, bahkan laki-laki dilarang untuk menggendong anak yg mana ibu dari anak tsbt bukan mahramnya, dll, kesemua hal tsbt adalah guna mencegah terjadinya ikhtilath di antara mereka.

Segala sesuatu yg ada pada kami saat itu tidak lepas dari pandangan sinis warga sekitar, celana ‘nyingkrang’ dikatakan kebanjiran, kurang bahan, kaki korengan, dst dan kaum wanita yg berhijab dikatakan kepala nya kutuan, lepra, botak, dst, di tengah boikot warga saat itu santer berhembus kalimat yg berbunyi:

“Murid-murid Kaji Baidah itu melarat-melarat, jika mau melarat ikut Kaji Baidah saja!”

Bagi kami yg saat itu berdarah muda tentu sering kali ‘konslet’ juga berhadapan dg tingkah-pola mereka yg terus-menerus menusuhi kami, bahkan kami tidak meminta makan kepada mereka, kami ‘ngeker-ngeker’ makan sendiri, lalu kenapa mereka tiada henti ngerusuhi kami?

Beliau, Abah Ubaidah melihat gejolak muda batin kita saat itu menasihatkan kami:

“Sudah menjadi gandengannya memperjuangkan Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah mendapatkan gegeran, jika membalas atrinya seri, jika bersabar artinya menang.

Mereka yg menggegeri kita itu sebab belum mengerti dg apa yg kita kaji dan amalkan ini, jika mereka mengerti maka tidak akan menggegeri seperti saat ini, tugas kita adalah memberikan pengajaran kepada mereka bukan malah membalasnya!”

Tentu Jama’ah yg berkesempatan ikut di dalam perjuangan menetapi Al-Qur’an dan Al-Hadits di medio tahun 1960 sd 1970an akan merasakan hal yg sama, tp kami menikmatinya sebagai proses, sebagai bukti di hadapan Allah atas ikrar Syahadatain yg telah kami ucapkan, bahwa konsekuensi dari ikrar tsbt adalah tunduk dan patuh, tawakal dan istiqamah, tanpa bagaimana dan bagaimana atas seluruh hukum-hukum yg termaktubkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, inilah esensi dari Muslim yg sesungguhnya, muslim yg dituntut kafah nan hanif di dalam menjalankan Syariat Islam.

Menikmati kemesraan Berdo’a keselamatan kepada Allah saat pahit dan getirnya situasi pengepungan saat itu, pendalaman ilmu dan pengamalan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai satu-satunya peluru perjuangan, merasakan berhari-hari mengandalkan gaplek apek sebagai obat penenang rasa lapar, siang hari berjemur di terik mentari untuk beramalshalih membangun surau, lumbung, aula, dst dan di malam hari kembali menikmati kembali kemesraan Berdo’a di hadapan Allah Tabaraka wata’ala, Rab semesta alam, tempat bergantungnya seluruh do’a kami tertambat!

Dan tentu do’a pamungkas yg tidak akan pernah saya lewatkan adalah dapat makan nasi ngepul dan melahapnya sampai kenyang, dapat makan nasi ngepul dan ‘tanduk’ adalah hal yg sangat mewah dalam situasi gegeran seperti yg saat itu kami rasakan!

Dan di saat ini, kerap bermunculan Ustadz-ustadz muda di TV menggebu bersemangat menerangkan tentang wajibnya Berjama’ah, nyingkrang, kerudung, i’tikaf, dll yg mana telah sejak lama kami kaji dan amalkan bersama, saya menggumam ‘Alhamdulillah’ dan menghela nafas cukup panjang…

Apa yg dahulu kami kaji dan amalkan serta berbuah fitnah dan rentetap gegeran itu, dewasa ini diakui dan dipraktikan jamak masyarakat.

Dan di masa peramutan Jama’ah saat ini, di manakah sosok para pejuang itu?
Di mana kalian bersembunyi?

Tidak perlu kalian menjawabnya, cukup menjadi pijar yg menerangi sekitar kalian dg meneruskan perjuangan melestarikan Al-Qur’an dan Al-Hadits, turun maturun sampai masa yg jauh, sejauh-jauhnya!

Malang, 16 Mei 2020

#putraanidok

Picture:
Satu sudut KH. Nurhasan dg para santrinya dalam satu acara karnaval kemerdekaan RI.