Galeri Perjuangan QHJ

Memperjuangkan sesuatu itu butuh kesungguhan, prinsip yang tegak, keuletan, dan keberanian. Dari sekian banyak cerita sejarah yang diceritakan oleh para pelaku sejarah, ditarik kesimpulan bahwa H Nurhasan Ubaidah bukanlah ulama kaleng-kaleng yang pulang dari Tanah Harom, sesampainya di negeri sendiri hanya jadi ulama ‘biasa’. Beliau bukan ulama kaleng-kaleng yang cuma bermain opini lewat youtube.

Beliau benar-benar turba (turun kebawah) mencontohi santri-santrinya bagaimana menegakkan agama Islam sesuai dengan apa yang diajari Rosululloh SAW kepada para sahabatnya.

Bagaimana pun, dakwah Islamiyyah membutuhkan strategi dalam syiar-nya. Alasannya karena negeri ini bukan didirikan atas al Quran dan Sunnah. Tetapi Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri atas kesepakatan para pejuang, pendahulu kita. Negara ini berdiri atas penderitaan yang sama karena penjajahan.

Kami merasa perlu mengangkat sejarah perjuangan H Nurhasan Ubaidah agar generasi penerus mengetahui akar sejarah Islam Jamaah sejak terbentuk tahun 1941.

Mengapa?

Dari sisi dakwah, tentu kisah para nabi dan umat yang terdekatlah yang banyak tertulis di kitab-kitab. Padahal Islam adalah agama yang dinamis, akan terus berkembang ibarat ular yang keluar dari lubang/sarangnya. Dan Islam yang berdasarkan tuntunan Rosul SAW akan mengalami zaman yang berbeda, dan akan diperjuangkan oleh orang yang berbeda, yang belum tentu ada seseorang yang menulis kisah tentangnya.

Maka dari itu alangkah tepat bilamana generasi penerus mengenali siapa local hero mereka, meski tidak mungkin sangat lengkap karena para pelaku sejarah pun sudah banyak yang tidak lagi bisa diwawancarai.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Betul?

Apakah ini artinya mengkultuskan manusia?. Tidak, karena bagaimana pun juga, mencintai manusia yang mencintai Alloh dan Rosul itu tidak mengapa. Mencintai manusia yang mencintai para ahlussunnah itu tidak salah.

Berikut dokumentasi H Nurhasan Ubaidah yang kami terima melalui whatsapp dan sosial media lainnya.