Isu Takfiri: Mereka Mengolok-olok Hukum Tuhannya Sendiri

Beberapa Bulan Ini Saya Sempat dibuat Heran dengan Sikap Sebagian Manusia (JRK – Jemaat Rong Kontener), Mereka Mengatakan Bahwa Tidak Boleh Menghukumi/Mengkafirkan pada Orang Lain, Walaupun Orang tsbt Jelas-jelas Melakukan Pengamalan yg Menjerumuskannya pada Kekafiran, Mereka Mengatakan Penghukuman tersebut Sebagai Lakon-lakon ‘Takfiri’…

Tetapi… Bagaimana Jika yang Menghukumi pada Hal tersebut adalah Allah dan Rasulullah?

Apakah Mereka Ingin Mengatakan Seseorang yang Mengkafirkan Apa-apa yang dianggap kafir oleh Allah dan Rasulullah tersebut Termasuk Melakukan Lakon-lakon ‘Takfir’, dan Notabenenya Takfiri adalah Nama Lain dari Kesesatan…?

Seakan-akan Mereka Menjadikan Julukan ‘Takfiri’ Sebagai Olok-olok dan Sendagurau Terhadap Hukum Allah dan Rasulullah di dalam Quran Hadits Jamaah.

Perhatikan Satu Riwayah dlm Kitab Sunnan Abu Dawud Berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

Dari Jabir, Ia Berkata:
Bersabda Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“Antara (Pemisah) Seorang Hamba (Muslimin) dan Kekafiran adalah Meninggalkan Shalat Fardhu’ (dengan Sengaja)!” – (HR. Sunnan Abu Dawud No. 4058)

Mereka Mengatakan Bahwa Kata “الْكُفْرِ” dalan Penggalan Sabda Rasulullah di atas Bukan Bermakna Kekafiran Sebagaimana Kemurtadan atau Kesyirikan, dan mereka JRK Menjuluki Sebagai ‘Takfiri’ Bagi Mereka yang Menghukumi Siapapun yang Meninggalkan Shalat Fardhu’ dengan Sengaja Sebagai Lakon-lakon Kekafiran.

Atau Perhatikan Satu Riwayah dlm Kitab Shahih Muslim Berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Dari Ibnu Abbas:
Dari Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, Beliau Bersabda:
“Barangsiapa Mengingkari dari Imamnya pada Sesuatu Maka Bersabarlah atas Hal tersebut, Maka Sesunnguhnya: Tidak Ada Seseorang yang Keluar (Menentang) dari Keimaman Walau Sejengkal (Satu Hukum/Amrin Jami’) Lalu Mati, Maka ia Mati Sebagaimana Mati di Masa Jahiliyah (belum ketemu islam)” – (HR. Shahih Muslim No. 3439)

Dan Mereka pun Mengatakan Bahwa Penggalan Kalimat “مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً” Bukanlah dimaksudkan Kekafiran, dan Menuduh Melakukan ‘Takfiri’ kepada Mereka yang Mengatakan/Mengartikan Penggalan Kalimat tersebut Sebagai Kekafiran yang Hakiki…

Mereka Memperolok-olok Hukum Allah dan Rasulullah, Perhatikan Firman Allah Menerangkan Keadaan Mereka di dalam Al-Qur’an Berikut:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بَمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِءُوا إِنَّ اللهَ مُخْرِجُ مَاتَحْذَرُونَ

“Merasa Takut Orang-orang Munafik: Bahwa diturunkan Berat atas Mereka Satu Surat yang Menerangkan siapa Mereka, Sebab Apa-apa dalam Beberapa Hati Mereka, Katakanlah (Nabi Muhammad):
‘Silakan Teruskan Olok-olok Kamu (Munafik) (pada Hukum QHJ)’
Sungguh Allah Akan Mengeluarkan pada Apa-apa yang Mereka Takuti (Rahasia Penyimpangan Mereka pada QHJ)” – (QS. At-Taubah : 64)

Sebagai Orang Iman, Orang Islam, Orang Jama’ah, Kita diajarkan, dimanqulkan, dinasihati, dan diramut, Bahwa Kita WAJIB Menghalalkan pada Apapun yang dihalalkan dalam Quran Hadits dan Mengharamkan pada Apa-apa yang diharamkan dlm Quran Hadits, Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Berikut:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan Apa-apa yang Memberi pada Kamusekalian (Muslimin) dari Rasulullah Maka Terimalah Pemberian tersebut, dan Apa-apa Melarang pada Kamusekalian, Maka Tinggalkanlah. Dan Bertaqwalah pada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Keras BalasanNya (HukumNya)!” – (QS. Al-Hasyr : 7)

#CakPutraAnidok