Runtuhnya Kesombongan Sang Kiai

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا – 17:37

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung. (surat Al Isro: 37).

Suatu pagi di awal bulan Maret tahun 50-an (masehi), Kiai Sulaiman sedang membersihkan sisa-sisa kotoran yang disebabkan murid-murid pondok tadi malam. Kiai yang bertubuh agak kecil namun gesit dan energik tersebut mengayunkan sapunya, menggiring sampah-sampah ke bagian tepi tanah pekarangan sekitar pondok. Sedang asyik-asyiknya menyapu, terdengar bel sepeda pancal.

“Assalaamualaikum.”

Kiai Sulaiman menoleh ke sumber suara. Gagang sapunya disandarkan pada tembok pondok.

“Waalaikumsalam,” sambut Kiai Sulaiman sambil menyalami tamu tak diundang itu.

“Sedang sibuk bekerja, pak Kiai?” tanya orang tadi yang mengaku dari Kediri. Ia bernama Nurhasan, sedang jalan-jalan ke Tulungagung dengan sepeda kunonya.

“Iya pak. Maklum, anak-anak lagi rebahan di dalam pondok. Kegiatan semalam sangat padat,” ujar Kiai Sulaiman dengan wajah berbinar-binar menerima kedatangan tamunya tadi. Walau baru saja kenal, keduanya kelihatan akrab. Di sela-sela obrolan yang sesekali diselipkan guyon-guyon gayeng mengasyikkan, dua orang murid pondok tampak keluar dari masjid.

“Mau kemana kamu?,” tanya Kiai Sulaiman.

“Hendak ke kebun samping, pak Kiai,” jawab murid pondok tadi dengan takzimnya.

“Ada keperluan apa?.”

“Memetik kelapa muda, pak Kiai,” jawabnya.

“Buat campuran minuman es nanti siang?”

“Benar, pak Kiai.”

“Kamu tidak usah memetik. Nanti aku yang akan mengambilnya dari atas pohon,” ujar Kiai Sulaiman. Mendengar ucapan gurunya, murid tadi langsung kembali ke masjid.

Begitu muridnya masuk ke dalam masjid, Kiai Sulaiman mengajak tamunya ke belakang pondok.

“Berapa jumlah murid pak Kiai?” selidik tamu tadi sambil berjalan di belakang Kiai Sulaiman. Matahari mulai naik tinggi keatas cakrawala sebelah timur sana.

“Tak banyak. Hanya beberapa orang. Sedangkan yang lain pulang ke rumah masing-masing. Maklum pondok baru. Jadi murid-muridnya masih terbatas anak-anak tetangga,” jawab Kiai Sulaiman.

“Ajaran apa yang pak Kiai berikan kepada murid-murid?”

“Ada beberapa kitab dari ulama kondang, namun lebih ditekankan pada pemahaman al Quran,”

“Diluar itu masih ada pelajaran lain?”

“Biasa itu. Ilmu beladiri. Pencak silat.”

Tamu bertubuh gempal, tinggi, dan sedikit bercambang itu manggut-manggut.

“Pohon kelapanya lebat sekali pak Kiai. Kukuh dan buahnya banyak,” puji tamu dari Kediri ini. “Pak Kiai biasa memberikan secara gratis kelapa-kelapa itu kepada murid-murid?”

“Hitung-hitung sedekah,” jawab pak Kiai Sulaiman pelan.

“Pak Kiai memanjat sendiri pohon-pohon yang demikian tinggi ini?”

“Tidak. Aku tidak perlu memanjat,” jawab Kiai Sulaiman mulai menampakkan percaya dirinya yang meletup-letup.

“Kok bisa pak Kiai?” tanya Nurhasan, seakan-akan heran.

“Bisa! itu hal kecil bagiku!” ujar Kiai Sulaiman sambil berjalan mendekati pohon kelapa yang hendak dipetiknya. Dengan sekali tepuk tangan, buah kelapa yang diharapkan, berjatuhan satu per satu. Kiai Sulaiman minta Nurhasan segera menjauh dari pangkal pohon. Bila tidak, ia akan tertimpa buah yang besar-besar itu.

“Bagaimana. Lumayan kan?,” tanya Kiai Sulaiman beberapa saat setelah tiga orang muridnya diminta tolong untuk mengumpulkan buah-buah yang berserakan tadi.

“Hebat. Tapi di desa saya, apa yang pak Kiai lakukan ini bisa dikerjakan pula oleh anak kecil,” ujar tamu tadi tanpa sedikit pun membual.

“Ah omong kosong!” sergah Kiai Sulaiman dengan wajah yang tak percaya. Bahkan orang Kediri ini dianggapnya sombong sekali. “Belum berbuat apa-apa sudah besar kepala,” pikir Kiai Sulaiman.

“Saya tidak bermaksud menghina pak Kiai. Maaf, kalau pak Kiai ingin membuktikan, coba lihat keatas pohon itu,” ujar Nurhasan. Sesaat kemudian lelaki ganteng tadi menggerak-gerakkan tangannya. Begitu jari telunjuk menunjuk ke pucuk pohon kelapa, rontoklah beberapa buah kelapa. Ada yang muda, ada yang tua. Pohon sempat bergoyang. Buah yang jatuh tadi, dengan gesitnya melesat lagi keatas. Pemandangan ini berulang beberapa kali.

Kiai Sulaiman hanya memandang wajah Nurhasan dengan mata melotot dan mulut terkunci rapat-rapat.

“Kamu ini sebenarnya siapa” tanya Kiai Sulaiman sambil menjabat tangan Nurhasan beberapa kali. Awalnya Nurhasan memang tetap merahasiakan jati dirinya. Namun setelah didesak, akhirnya ia buka kartu kepada Kiai dari Serut, Boyolangu, Tulungagung itu.

Karena kesombongan yang mengundang malu ini, besoknya Kiai Sulaiman datang ke sebuah pondok pesantren besar di Burengan, Banjaran, Kediri, Jawa Timur. Di pondok milik ulama besar Jawa Timur itulah Kiai Sulaiman berguru berbagai ilmu agama dari Kiai Nurhasan, baik yang bersumber dari al Quran maupun al Hadits.

“Manusia memang tabu berbuat sombong,” kata Kiai Sulaiman kepada murid-muridnya, saudara seimannya, pada suatu pagi setelah berbulan-bulan modok di Kediri. “Kesombongan yang dilakukan Nabi Musa AS, akhirnya menjadikan dia harus menanggung sengsara, sebab disuruh Alloh menemui Nabi Khidir AS. Nabi Musa mesti berpayah-payah di tengah teriknya matahari dan ganasnya ombak lautan selama kurun waktu yang lama. Nabi Musa sadar, ilmunya sangat jauh dibawah bila dibandingkan dengan ilmu Nabi Khidir AS.”

Kini, kisah perihal Kiai Sulaiman telah berlalu. Ia telah meninggal beberapa tahun lalu. Ilmu-ilmu agama yang beliau sampaikan kepada banyak muridnya, kini telah menyebar ke berbagai daerah dan kota di tanah air tercinta. Pegangan hidup untuk kesempurnaan dunia dan akhirat.

Kisah inspiratif dikutip dari: Majalah Al Kisah No. 11 / 23 Mei – 5 Juni 2003.

Moral kisah diatas: “Jangan sombong. Diatas langit masih ada langit. Meskipun langit tertinggi tidak pernah terlihat dari bumi.”