Seri Kepemimpinan: Ciri Ulama Pejuang itu Istiqomah, Tidak Mencla-mencle

Ciri ulama yang benar-benar memperjuangkan kebenaran itu konsisten, berpegang teguh dengan Quran Hadits, penuh strategi, dan seringkali tidak kompromi.

KH Nurhasan Ubaidah, sejak awal kedatangannya ke bumi Nusantara (saat itu Indonesia belum merdeka), banyak mewarnai kisahnya dengan terobosan-terobosan yang ‘out of the box’ pada masanya.

Dikisahkan setelah beliau pulang ke Nusantara dan masih berjiwa muda, Nurhasan muda ingin dipek mantu oleh salah satu kyai. Ketika sowan ke rumahnya untuk memperkenalkan diri, beliau mendapati pak kyai memelihara burung dalam sangkar.

Tanpa kompromi, semua burung-burung dilepas oleh Nurhasan muda. Karena beliau menilai, mengurung burung yang seharusnya bebas itu adalah kezaliman. Maka marahlah sang kyai dan nggak jadi dipek mantu karena dianggap ia tidak punya adab.

Nah, kalau itu terjadi sekarang, mungkin ia dianggap anak muda radikal. Huehuehue..

KONSISTEN DALAM IBADAH – KONSISTEN DALAM DAKWAH

Sejak muda, banyak persaksian dari orang-orang Arab yang mengenal H Nurhasan muda, bagaimana taraf konsistennya dalam beribadah yang memang sulit ditandingi oleh orang lain. Selain dibekali fisik dan mental yang kuat, kadar keyakinan beliau terhadap pertolongan Alloh juga paripurna.

Rosululloh SAW menjadi panutan nomor wahid bagaimana cara ia melakukan dakwah. Banyak yang cerita bahwa dulu waktu ia pulang ke Nusantara, di pasar beliau naik keatas pohon dan teriak-teriak menyeru kepada kerumunan orang-orang disana agar netepi Quran Hadits secara murni jauh dari bid’ah syirik khurofat takhayul.

Hasilnya? banyak yang menyangka orang ini gila.

Padahal dulu Rosul SAW pun sama; berteriak diatas bukit shofa marwa untuk mengajak orang-orang kafir agar menerima dan masuk Islam. Maklum dulu belum ditemukan TOA, apalagi youtube.

Singkat cerita, KH Nurhasan Ubaidah tetaplah orang yang sama sampai akhir hayatnya. Namun karena menjumpai cobaan demi cobaan, pada akhirnya beliau pun mengubah strategi dakwahnya dengan fathonah bithonah budi luhur, luhuring budi karena Alloh.

Ajakan dan seruannya sama. Ya itu-itu saja; Basyiron Wa Nadziron! Tidak rubah, tidak geser.

Kok cuma itu-itu saja? apa beliau kekurangan ilmu?.

Tidak. Justru orang yang sangat berilmu, mampu menyederhanakan perkara yang sulit. Berbanding terbalik dengan ulama-ulama yang katanya bergelar “Lc” disana-sana.

Ulama yang faqih, mampu melihat mana yang paling penting diantara yang penting sesuai konteks zaman dimana ia hidup. Maa ‘ulima minad-diini bidh-dhoruuroh.

Ke-istiqomahan dalam berdakwah mengakibatkan ketidaksukaan dari berbagai pihak. Terbukti dalam usaha mendakwahkan al Quran dan al Hadits, menurut saksi hidup, beliau sering dikejar-kejar tentara. Dari timur ke barat beliau hijrah dan berpindah-pindah karena dianggap berpotensi membahayakan keamanan.

Apapun itu sejarah mencatat bahwa apa yang disampaikan, apa yang diserukan oleh beliau tetaplah sama: mengajak seluruh umat Islam agar sama-sama menetapi Quran dan Hadits sebagai pedoman ibadah.

Tidak percaya? Beberapa bukti bisa kalian lihat disini:

Catatan: jika bingung klik ini satu per satu

Sudah sejak lama beliau mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk bersatu. Lalu kemana saja kalian, hah??!!